IPB-Kementerian BUMN luncurkan “revolusi orange”

Jakarta (ANTARA News) – Institut Pertanian Bogor (IPB) gandeng Kementerian BUMN untuk mengembangkan program “revolusi orange” yaitu mengembangkan buah tropis di Indonesia.

“Ide IPB yang ingin mengembangkan “revolusi orange” wajib didukung, selain mengurangi gempuran buah impor, sekaligus mencari pasar ekspor ke China,” kata Menteri BUMN Dahlan Iskan, usai menerima “Tim Revolusi Orange IPB”, di Jakarta, Selasa.

Menurut Dahlan, dengan memanfaatkan lahan milik PT Perkebunan Nusantara (PTPN) untuk tahap awal buah yang dikembangkan adalah durian, manggis dan mangga.

“Mulai Maret 2013 di lahan milik PTPN VIII seluas 1.000 ha akan ditanami pohon manggis, dan 1.000 ha pohon durian,” kata Dahlan.

Sedangkan pengembangan tanaman mangga masih akan dicarikan lahan yang cocok untuk pengembangan buah dengan bahasa latin “mangifera indica” ini.

Menurut Dahlan, selama ini Indonesia mengimpor buah dari China dalam jumlah yang sangat besar.

“Untuk itu, alangkah bagusnya jika pasar China yang juga cukup besar dan menyukai buah tropis kita manfaatkan sebagai pasar ekspor buah asli Indonesia,” tegasnya.

Ia menuturkan, selain durian, mangga, dan manggis, sederet buah khas Indonesia yang memiliki potensi untuk diekspor seperti alpukat, belimbing, nanas, rambutan, duku, salak.

“Buah manggis sangat disukai di China. Pasokan manggis dari Indonesia masih yang terbesar, sementara Vietnam, Thailand dan Philipina kurang memproduksi buah manggis,” ujar Dahlan.

Dengan potensi tanaman tropis tersebut, maka perkebunannya di sejumlah wilayah seperti Sumatera Utara dan Aceh, wilayah Sumatera Barat, Riau, Jambi dan Bengkulu, wilayah Sumatera Selatan, Lampung, wilayah Jawa Barat, Jawa Tengah, dan Jatim, dan wilayah Sulawesi Selatan, Sulawesi Tengah, dan Sulawesi Utara.

Untuk dapat memenuhi pasar ekspor secara berkelanjutan diutarakan Dahlan, pola penanaman antar wilayah dilakukan dengan jarak waktu yang berbeda dan disesuaikan dengan kondisi iklimnya.

“Setelah dikembangkan di Jawa Barat kemudian akan dilanjutkan di wilayah lain dalam waktu tiga bulan berikutnya. Dengan begitu pada rentang waktu satu tahun produksi tidak berhenti mulai dari wilayah Aceh hingga ke Sulawesi,” ujarnya.

Tidak hanya waktu penanaman, Dahlan juga menyebutkan bahwa selain menanam buah tropis yang dijadikan fokus tersebut, juga akan diselingi dengan penanaman pepaya ataupun pisang.

“Buah tropis yang umumnya berbuah mulai tahun ke lima, akan diawali dengan tanaman sela seperti pepaya dan pisang,” ujarnya.

Meski demikian Dahlan tidak menyebutkan secara rinci nilai investasi yang akan dikeluarkan oleh PTPN dalam menjalankan kerjasama program Revolusi Orange” tersebut.

“Nilai investasinya masih dihitung, tidak terlalu besar karena akan memanfaatkan lahan milik PTPN. Tapi yang pasti IPB sudah sangat siap memasok pupuk, teknologi pertanian, teknologi penyimpanan, termasuk kegiatan pascapanen,” ujar Dahlan.
(R017)

Editor: Ella Syafputri

Sumber: http://www.antaranews.com

Dimana Kacang Tanah Kita?

Semalam saya iseng cari-cari artikel tentang kacang tanah, dan kini keadaanya sangat memprihatinkan. Bagai mana nasib negara ini? apa harus impor lagi, kelihatannya impor sekarang sudah tidak menjadi habatan negara kita bahkan sudah menjadi kebutuhan negara kita. Kebijakan yang kurang tepat di pihak petani, membuat para petani enggan menanam komoditas tersebut.

Menurunnya produksi kacang tanah di Indonesia diakibatkan susahnya persediaan benih unggul yang dibutuhkan para petani, misalnya saja di Bandung yang dimuat berita online Bisnis.com, menyatakan bahwa “Komoditas kacang tanah di Jawa Barat terancam akan punah karena minimnya petani yang menanam komoditas tersebut. Hal ini disebabkan karena sulitnya benih dan rendahnya keuntungan yang didapat”. Pemerintah harus bertindak cepat dalam mengatasi hal ini, jangan sampai kacang tanah menjadi makanan langka di Indonesia. Banyaknya industri dan kebutuhan pangan akan kacang tanah di Indonesia, permintaan kacang tanah semakin besar. Hal ini tak sebanding dengan produksi yang diperoleh dalam negeri.

Selain dari persediaan benih kacang tanah, kendala lainnya adalah rendah ya harga kacang tanah, harga kacang tanah tidak sebanding dengan budidaya kacang tanah, sehingga para petani mengalami kerugian. Menurutnya petani, total biaya produksi untuk 1 ha mencapai Rp10 juta dengan kisaran produksi sebesar 455 ton selama musim panen tiga bulan. “Pendapatan petani dari musim panen hanya Rp16 juta dari total produksi tersebut, sementara dalam 1 ha lahan tanam dikelola sedikitnya empat petani, jadi rata-rata petani mendapatkan penghasilan Rp1,5 juta, belum dipotong lainya, itu sangat jauh dari penghasilan petani padi,” ujarnya.

Pada tahun ini pemerintah impor kacang tanah dari Cina dan India sebesar 92 ribu ton kacang tanah, seolah sudah menjadi langganan Indonesia negara Cina dan India ini dalam menyediakan kacang tanah di Indonesia. kenapa musti impor, begeri ini sudah kebanjirang barang impor. Petanilah yang selalu dirugikan, banyaknya barang impor di Indonesia sangat merugikan para petani. Harga yang dijual dipasaran tidak sesuai dengan harga petani, disinlah para petani menanggung semua kerugiannya. Kebijakan besaran impor yang kurang tepat di rasa menjadi masalah penting, seharusnya kurang 10% kebutuhan kacang tanah, pemerintah harus impor 10%, sehingga hanya dapat menutupi kekurangan saja tanpa merugikan harga tetapan petani, bukan di lebihkan yang dapat memberi dampak turunya harga tetapan petani.

Kacang tanah harus mendapat perhatian penting, kini tanaman pangan sudah memasuki masa kritisnya, kedelai yang harus impor, padi yang harus impor, dan kacang tanah yang harus impor, terus di negara kita ada apa saja ya??? ironis negeri ini, kurangnya perhatian pemerintah kebutuhan pangan kita menjadi kendala uatam dalam negeri ini. Kebijakan pemerintah dalam menjaga ketahanan pangan nasional harus dapat di tingkatkan, prioritaskan para petani tanaman pangan dan terus mengembangkan penelitian tentang tanaman pangan di Indonesia.

Sumberdaya yang Enak di Pandang

Kekayaan negeri ini seolah tak akan pernah habisnya, banyak sumberdaya alam yang melimpah. Negara yang letaknya sangat strategis dan memiliki banyak plasma nutfah. Cagar alam menjadi salah satu pendorong dalam menjaga dan melestarikan sumberdaya alam yang kita miliki.

Namun kurangnya pengawasan dan pengelolaan yang tepat kini sumberdaya yang menjadi basic kekayaan kita telah sirna, banyak bencana yang di timbulkan karena rusaknya sumberdaya alam di negeri kita. Rusaknya sumber daya akibat ulah manusia yang tidak bertanggung dan tidak mempunyai rasa memiliki pada sumber daya tersebut.

Sampai kapankah negeri ini begini? Lihatlah lingkungan sekitar kita, jika kita mau menjaga dan mengelola dengan baik akan dapat manfaatnya untuk kita dan cucu kita. Bandingkan lingkungan yang sudah dijamahi seseorang dan belum terjamahi seseorang akan berbeda. manusia adalah sumber dari rusaknya sumberdaya yang negeri ini miliki.

Tanaman Hias merupakan salah sumberdaya yang kita miliki, anggrek misalnya merupakan tanaman khas dari Indonesia yang hanya didapatkan dari pegunungan. Sumberdaya yang dapat dinikmati semua orang karena keindahan warna mahkota yang bunga berikan. Jika kita merawat dan mengelola dengan baik anggrek akan menghasilkan bungan dengan mahkota yang menawan, seakan memberikan nilai jual yang tinggi.

Banyangkan jika anak cucu kita tidak akan pernak melihat bunga anggrek yang menawan seperti gambar dibawah, seperti apa hidup nantinya kita belum tahu. Mulai sekarang marilah kita bersatu tanggap menjaga sumberdaya yang kita miliki dan melestarikan kekayaan plasma nutfah negeri ini.

Sumber : rizalm09.student.ipb.ac.id

Jaga Kebersihan Kampus KITA

Artikel dibuat berdasar diskusi kelompok komunikasi, dimana tema yang diusung adalah mengenai kebersihan lingkungan kampus kita. Membahas mengenai kebersihan kampus, mungkin ini menjadi sorotan penting bagi kita semua sebagai mahasiswa yang seharusnya penggerak GO GREEN. Kebersihan kampus merupakan cerminan dari sifat mahasiswanya sendiri, tanggap dan tidaknya mahasiswa sangat mempenaruhi kepeduliannya terhadap kebersihan kampus kita.

Sebelumnya saya akan menyebutkan beberapa masalah yang terjadi kenapa kampus kita kotor, banyak beberapa faktor yang mempengaruhi yang pertama adalah minimnya tong sampah di sekitar kampus kita. Dimana tong sampah adalah tempat wajib yang harus ada untuk disetiap sudut kita memandang, kebanyakan tong sampah yang tersedia rusak dan saya pikir itu percuna ada tong sampah, sudah tong sampah sedikit rusak pula. Bahkan tong sampah yang ada di depan kelas kuliah ada yang samapi menumpuk, hal ini sangat mengganggu kenyamanan kita dalam kuliah. Ada moto buahlah sampah pada tempatnya, jika tempatnya saja sudah rusak mau dibuang kemana??

Kebersihan berikutnya adaah mengenai WC atau Kamar mandi, masalah ini tidak ada penyelesainnya dari dulu. Kamar mandi dikampus kita terkenal jorok, sudah jorok jam bukanya hanya jam 09.00 hingga 15.00 sangat mnim sekali kegiatan mahasiswa bukan hanya jam segitu tapi mulai dari jam 07.00 hingga 23.00. Nah saat mulai sore setelah kuliah sangat disayangkan bagi yang muslim ingin menjalankan shalat Ashar sangat kesusahan, mohon di perhatikan lebih lanjut. Ini masalah sudah sejak dari dulu, bahakn sudah menjadi sejarah kampus kita, kapan masalah di pecahkan??

Kebersihan kamar mandi seharusnya juga dijaga dengan baik, ada salah satu WC dan Kamar mandi departemen di Kampus sangatbersih dan nyaman, namun sayang tidak semua kamar mandi dan WC tersebut dibuka. Walau bayar Rp.500,- tidak masalah asalkan bisa menjaga agar kamar mandi dan WC tetap bersih membuat mahasiswa nyaman dan yang paling penting tamu atauorang lain merasa nyaman. Orang lain atau tamu akan melihat kebersihan kampus dilihat dari toilet yang disediakan kampus, mohon diperbaiki mekanisame dan kebijakan dalam kebersihan toilet kampus.

Beberapa solusi saja yang saya ingin tawarkan mengenai masalah menjaga lingkungan kampus kita agar tetap bersih, buatlah poster mengenai pentingnya menjaga lingkungan dan dibawah poster diberi tempat sampah Organik, anornaik, dan sampah basah. Masalah utama adalah tenaga kerja yang mengambil sampah, sampah ada tapi penuh terus dari hari ke hari (gak pernah diambil) sehingga kita juga bngung ingin buang kemana sampah, lain sisi sampahnya minim sisi lain sampah penuh. Ada salah satu Mata Kuliah mengenai Lingkingan Kampus yang dbebankan 1 SKS pada setiap mahasiswa yang tanggap terhadap lingkungan, tugas dari praktikum ini adalah membuang sampah dan memilah sampah, serta mensosialisasikan mengenai kebrsihan kampus kita. Penambahan tong sampah disetiap sudut kampus, kampus menyediakan alat penanganan limbah, sehingga mahasiswa akan tanggap dan membantu memilah sampah. Dimana sampah plastik akan dijual, sampah organik akan diguankan sebagai pembuatan pupuk, dan sampah bsah digunakan sebagai pupuk cair. Hal ini sangat berkaita dengan kampus kita yang notabene adalag bergerak dibidang pertanian.

Selain diatas, seringsering mengadakan lom,ba kebersihan antar departemen, antar fakultas yang diadakan setiap 6 bulan sekali, adanya lomba sangat memotivasi untuk menjaga kebersihan dan ini dapat mengubah budaya kita yang sering buang sampah sembarang menjadi buah sampah pada tempatnya. Jika Menang ada rasa bangga bagi peserta dan jika kalah adanya rasa malu, adan pasti akan termotivasi ingin menjadi juara.

Berikutnya solusi untuk Toilet dan air di akmpus kita, toilet mutlak semua orang membutuhkan kapanpun itu waktunya. Kebersihan membuat orang nyaman menggunakan toilet. Jika toilet bersih maka rasa akan memiliki toilet tersbut pasti ada. Toilet di buka hasrus 24 jam, akalau tidak tunjuknya spot toilet yang dijaga 24 jam, misal yang dekat dengan pos satpam. Kelemahannya adalah saat mahasiswa mengadakan rapat dikampus malam-mlam mahasiswa tidak dapat mmebuang air kecil ditoilet karena sudah tutup. Kendala selain toilet adalah air, air sangat dibutuhkan apa lagi setelah kuliah sore saat shalat ashar. Kebingungan mencari dimana ada air, kampus kita sangat minim fasilitasnya. mohon di perbaiki lagi mengenai persediaan air di kampus.

Itulah sedikit kritikan dan saran untuk kampus kita, agar tetap bersih dan nyaman untuk dilihat, jika kampus kita bersih s=yang senag adalah kita semua. Dan kita bangga, tidak malu jika mengajak tamu dari luar untuk singgah ke kampus kita. Teriakan mahasiswa pada lingkungan Hidup di kampus semoga memndapat perhatian dari BEM penggerak kampus dan petinggi-petinggi kampus kita.
SALAM MAHASISWA, SALAM KEBERSIHAN…..

Sumber : rizalm09.student.ipb.ac.id

Pengolahan Pasca Panen Teh Hijau-Hitam

Hari ini, Selasa 13 November 2012 proyek pasca panen dimulai, pengolahan teh yang diwakili oleh dua kelompok. Teh didapatkan dari PT. PN VIII Gunung Mas Puncak. Ini merupakan kegiatan Praktikum pada mata kuliah Pasca Panen tanaman pertanian. Setiap mahasiswa yang tergabung dalam kelompok akan di bagi proyek yang akan dikerjakan, misal pada kelompok saya adalah proyek pengolahan teh hijau.

Teh diambil pada hari Senin jam 10 pagi hingga jam 5 sore, setiap kelompok mendapatkan 20 kg teh petik. Teh yang sudah dipetik ditaruh karung dan ditutup. Setelah semalam di tutup dan tidak di ratakan teh menjadi coklat sebelum proses pelayuan. Proyek pengolahan teh dimulai dengan analisis pucuk daun teh yang dilaksanakan di Cikabayan. Setelah semuanya dianalisis teh diolah di F-technopark Fakultas Teknologi Pertanian, alhamdulilah ada juga alat pengolahan teh, sehingga kami tidak jadi menggunakan alat sederhana yaitu nyangrai sendiri 🙂

Alat yang ada di FATETA sudah termasuk canggih walau agak jadul, hehe 🙂 Proses pengolahan berjalan cepat, awal pengolahan saat di FATETA adalah dengan melayudan daun dengan cara menguapkan daun teh sebanyak satu kali, setelah di uapkan daun di rolling di mesin pemutar yang tujuannya untuk mengeringkan daun dan mengurangi kadang air daun selama 15 menit. Stetal di rolling daun teh di taruh pada alat penggelintingan, dimana fungsinya agar daun teh mengelinding selama 15 menit. dan proses tahapan terakhir adalah pengovenan, pengovenan dilaksanakan 1-2 jam hingga daun kering dan berbau harum.

Setelah daun teh kering dianginkan di ruang AC agar teh tidak terlalu kering, jika teh terlalu kering maka menimbulkan banyak karbon. Setelah dianginkan semalam teh siap dikemas sesuai dengan ukuran yang dikehendaki. Teh terasa nikmat jika dihidangkan dengan air hangat dan jamuan gorengan lainnya. 🙂
Semoga apa yang dilakukan hari ini memberikan manfaat yang sangat besar, amin 🙂

Proses Pelayuan atau Pengasapan
Mesin Roller, Untuk Pengeringan
Mesin Penggelintingan Daun Teh
Pemindahan Dari Proses Penggelintingan ke Proses Pengovenen
Teh Siap DI Oven
Teh Mulai Kering saat Proses Pengovenan

Sumber : rizalm09.student.ipb.ac.id

Membuat Text Area Dengan Tombol Scroll Pada Halaman Posting

ayo buat temen-temen yang ingin memodifikasi postingan atau widget blog temen temen dengan menambah Scroll  ikuti cara berikut ini:

  1. Login ke Admin Blog Student IPB anda.
  2. Pada sisi kiri halaman  klik menu [Post] > [Add New].
  3. Dan akan tampil halaman ‘Add New Post’.
  4. Masukkan kode dibawah ini pada mode [HTML].

    <div style="border: 2px solid #999999; overflow: auto; height: 80px; text-align: justify; padding: 5px;">
    Tulisan Anda...
    </div>

  5. Kemudian kembali pada mode [Visual], untuk melakukan penulisan.
  6. Setelah selesai, klik tombol [Save Draft] bila anda ingin menyimpannya dulu atau klik tombol [Publish] bila anda ingin menampilkannya pada halaman blog anda.

Okay, semoga berhasil kawan 🙂

Rizalm09.student.ipb.ac.id

KEMENRISTEK DAN IPB JALIN KERJASAMA

buah-localDalam waktu dekat Kementerian Riset dan Teknologi akan bekerjasama dengan Pusat Pengkajian Hortikultura Tropika (PKHT) IPB dalam pengembangan viariteas unggul buah-buahan seperti  Nanas, Pepaya dan Pisang.

Hal itu sejalan dengan Kemenristek yang berkomitmen mendukung sinergi kegiatan penelitian, utamanya dalam kerangka penguatan Sistem Inovasi Nasional (SINas) serta mendukung Masterplan Percepatan dan Perluasan Pembangunan Ekonomi Indonesia (MP3EI) 2011-2025.

Asdep Kompetensi Kelembagaan I Wayan Budiastra menyatakan bahwa melalui kegiatan thematik pangan sejak tahun lalu telah memfasilitasi peneliti dari LPNK terkait (BPPT, LIPI dan BATAN) untuk mengimplementasikan kegiatan penelitian mereka dengan memanfaatkan lahan yang ada di Puspiptek.

>Oleh karena itu menurut Wayan inisiatif terkait dengan upaya sinergi hasil penelitian dikawasan Puspiptek perlu terus dilakukan.

Tujuannya adalah sebagai bagian dari upaya mensinergikan kegiatan riset sekaligus menjadikan Puspiptek sebagai etalase atau show room dari hasil -hasil penelitian yang dilakukan oleh para peneliti.

Sementara itu, Kepala Pupsiptek Wisnu Sardjono Soenarso menyambut baik pelaksananan kegiatan tersebut, karena memang sesuai dengan peruntukkannya kawasan Puspiptek sebagai pusat penyelenggaran riset serta budaya inovasi dan daya saing usaha terkait serta lembaga-lembaga berbasis pengetahuan.

Namun demikian,  harus dibarengi dengan komitmen dari para pelaku kegiatan dan peneliti terkait dengan pengelolaan dan keberlanjutan kegiatan yang dilakukan.Dalam rangka itu diadakan pertemuan untuk menyepakati dan merumuskan kembali mekanisme sinergi penelitian serta pengelolaannya, sehingga kegiatan yang dilakukan dapat terlihat hasilnya di masa mendatang.

Sumber: http://www.technology-indonesia.com

IPB terus mengembangkan varietas buah lokal yang ada di Indonesia, kini beberpa komoditas menjadi komoditas andalan di Indonesia yaitu pepaya, pisang, nanas, manggis, durian, dan masih banyak lagi. Terus dukung potensi buah lokal kita, yakin suatu saaat Indonesia menjadi pengekspor buah-buahan di seluruh negara di dunia. Menjaga dan melestarikan komoditas nusantara adalah tugas kita, so konsumsilah buah lokal selain sehat harga terjangkau.

-I LOVE INDONESIA, AKU CINTA BUAH NUSANTARA-

Buah Lokal Vs Buah Impor

buah-local

Himpunan Alumni IPB geram terhadap kondisi terpinggirkannya buah lokal karena beberapa aspek. Ketua Himpunan Alumni IPB, Said Didu mengatakan kondisi itu disebabkan oleh kurang tersedianya benih berkualitas dalam jumlah memadai, lemahnya kegairahan petani baru untuk produk buah-buahan. Juga kurang memadainya infrastruktur logistik buah.

“Ditambah lagi dengan adanya perubahan perilaku konsumen yang semakin menyukai produk impor. Karena buah impor yang semakin mudah dan murah. Hal ini menujukkan kekurangberpihakan kebijakan fiskal terhadap buah lokal Indonesia,” ujar Said Didu, minggu (10/7) saat mengkampanyekan Gemari Buah Lokal di Jakarta.

Menurut Said, perlu ada gerakan yang massif dan sistematika agar konsumsi buah lokal dicintai di negerinya sendiri.

Sementara Direktur Budidaya dan Pascapanen Buah Ditjen Hortikultura Kementerian Pertanian Sri Kuntarsih menyatakan kuatnya arus globalisasi menjadi faktor persoalan ini sulit diatasi. Di sisi lain data PDB menyebutkan buah nasional selama 2005-2010 naik sebesar 63,5 persen begitu juga produksi buah naik di kurun lima tahun terakhir hingga 29,21 persen.

Menurut Sri Kuntarsih , minimnya minat konsumen dan ketersediaan buah lokal terutama di pasar modern juga menjadi penyebab produk dalam negeri kalah bersaing.

Buah impor khususnya dari China dinilai memiliki produk berkualitas, baik, dan harganya sangat terjangkau. Tidak heran perbandingan nilai impor terhadap ekspor buah nasional sebesar 293,9 persen.

Membanjirnya buah impor ke dalam negeri, terutama di pasar-pasar modern menurut Wakil Menteri Pertanian Bayu Krisnamurthi tidak otomatis menunjukkan bahwa buah lokal telah terpuruk di negeri sendiri.

“Secara jumlah (impor buah-buahan) sebenarnya masih sangat kecil dibandingkan produksi nasional yakni hanya 3,5 persen pada 2010,” katanya.

Pada tahun lalu, produksi buah nasional 19,03 juta ton sedangkan impor hanya 667 ribu ton sementara ekspor buah Indonesia 276 ribu ton.

Ekspor buah nasional terdiri atas manggis, nanas, mangga dan rambutan yang umumnya tergantung musim.

Selain itu menurut Bayu beragamnya jenis buah yang dimiliki Indonesia temyata tidak lantas mendorong perbaikan produksi dan kualitas buah nasional. Petani kurang bisa mempertahankan kualitas buah secara seragam dan kontinu.

Bayu menyontohkan Thailand, yang dulu punya 60 jenis durian, tapi kemudian atas titah raja, pengembangan durian diputuskan untuk hanya berfokus pada 7 jenis. Dengan begitu, kuantitas dan kualitas produk tetap terjaga.”Ketegasan memilih jenis itu butuh keberanian besar,” kata Bayu.

Selain itu, Indonesia tidak memiliki perkebunan buah nasional, melainkan skala kecil yang dikelola petani, sehingga tidak bisa dihitung dalam hektare seperti negara lain. Padahal konsumsi buah di dalam negeri termasuk tinggi, mencapai 18,5 juta ton per tahun.
Dari segi permintaan, sebetulnya produksi buah nasional juga naik 12-15 persen selama lima tahun terakhir ini. “Jika ada kesan buah impor dominan, temyata angkanya tidak benar,” kata Bayu.

Produksi buah terbanyak termasuk golongan buah musiman atau eksotik. Sayangnya, kendala alamiah produksi akibat dua musim yang dimiliki Indonesia membuat buah tidak bisa secara reguler tak dapat dipasok setiap saat.

Sumber: http://www.technology-indonesia.com

Terbukti kan ya, Indonesia tidak kalah dengan negara lain, maka cintailah produk kita dalam menjaga kualitas produk kita.  Jika kita dapat terus percaya dan menggemari buah lokal maka bdan kita akan sehat dan yang paling penting petani akan semangat terus mengembangkan inovasi untuk menciptakan varietas tanaman yang unggul dan produktivitas unggul sesuai dengan daerah Indonesia (tropika).

Budayakan Makan Buah dan Sayuran Lokal

Di tengah maraknya bahan pangan impor yang berdatangan ke Indonesia, bahan pangan lokal mulai terlupakan dan jarang diminati masyarakat. Padahal bahan pangan lokal memiliki berbagai kelebihan. Selain harganya yang relatif lebih murah, bahan pangan lokal juga dapat memberikan manfaat yang lebih besar bagi kesehatan.

Mengkonsumsi pangan lokal terutama buah dan sayuran asli Indonesia, bukan hanya akan mendapatkan nutrisi yang lebih tinggi, tetapi juga dapat membantu mencegah penyakit degeneratif seperti diabetes, kanker stroke atau pun sakit jantung.

Hal tersebut diungkapkan pakar ilmu gizi dari Institut Pertanian Bogor (IPB) Prof. Dr. Ahmad Sulaiman pada acara “Nutritalk Jelajah Gizi” yang diselenggarakan Sari Husada di Gunung Kidul, Yogyakarta, Jumat (2/11/2012) lalu.

“Memperbanyak konsumsi buah dan sayur-sayuran lokal sebenarnya dapat dijadikan upaya mencegah penyakit-penyakit tidak menular dan penyakit kronis seperti diabetes, jantung, stroke. Buah-buahan dan sayuran lokal ini dapat melakukan detoksifikasi, mencegah peningkatan kolesterol, dan tentu saja tidak ada racun atau pestisida di dalamnya,” ungkap Ahmad.

Ahmad menegaskan, produk pangan lokal sebenarnya memiliki banyak keunggulan dibanding produk impor. Ia menilai masyarakat saat ini cenderung lebih menyukai produk pangan impor, termasuk buah dan sayuran. Bahkan, membeli bahan pangan impor di supermarket atau mall sudah menjadi gaya hidup.

Tetapi ironisnya, banyak dari mereka yang belum memperhitungkan faktor keamanan dan risikonya bagi kesehatan. “Masih banyak orang tidak peduli dengan keamanan dari pangan impor,” terangnya.

Bahan pangan impor seperti buah dan sayuran, papar Ahmad, mengundang risiko lebih besar bagi kesehatan karena mungkin saja disemprot pestisida dan dilapisi fungisida untuk mencegah pembusukan. Sedangkan produk lokal relatif lebih aman. Penanamannya pun kebanyakan organik, dan tidak diberi zat kimia pengawet.

Selain itu, kata Ahmad yang juga peneliti pada Pusat Studi Hortikultura dan Buah-buahan Tropis IPB, jenis buah dan sayuran lokal lebih beragam dibandingkan pangan impor. Walaupun ketersediaan buah dan sayuran lokal bisa berbeda-beda karena menyesuaikan dengan musimnya.

“Sekarang kita sedang melimpah mangga, sebentar lagi rambutan, lalu dukuh, disusul manggis, lalu sawo. Ada terus setiap musim sehingga kita tidak akan bosan,” papar Ahmad.

Dengan bergantinya musim, kata Ahmad, tubuh manusia juga akan menyesuaikan diri. Kandungan nutrisi dalam buah dan sayuran pun akan berubah dan lebih optimal menyesuaikan dengan musimnya. Alhasil, apabila kita mengonsumsi pangan sesuai musimnya tentu tubuh akan lebih sehat.

“Tuhan memang menyediakan buah-buahan tersebut disesuaikan dengan tubuh dan daya tahan tubuh kita,” ujar Ahmad.

Ahmad menyayangkan, keunggulan pangan lokal seperti buah dan sayuran tidak banyak diketahui oleh masyarakat. Salah satu penyebabnya adalah kurangnya peran pemerintah dan media dalam mensosialisasikan keistimewaan pangan lokal.

Ia juga mengusulkan kepada pemerintah untuk membuat studi epidemiologi tentang konsumsi bahan pangan, baik impor dan lokal, dikaitkan dengan efeknya terhadap kondisi kesehatan dan penyakit. Hal ini penting untuk mengangkat dan lebih meyakinkan lagi tentang pentingnya mengonsumsi pangan lokal bagi upaya perbaikian kualitas kesehatan masyarakat.

Sumber : http://www.kompas.com

Nah untuk apa ragu lagi, pengen sehat, aman konsumsilah buah dan syuran lokal yang sudah kita ketahui sehatnya. Produk dalam negeri jauh lebih sehat dari pada produk negara lain yang kita tidak tau penanganan pasca panennya, dan belum tau juga itu buah kapan dipanen. Pastikan produk ang anda beli adalah produkA SLI Indonesia, wujudkan kemandirian pangan dengan mengkonsumsi produk nasional.

-I LOVE INDONESIA, AKU CINTA BUAH DAN SAYURAN NUSANTARA-